Hidup ini misterius tak ada yang akan tahu bagaimana akhirnya dan
segala apapun yang terjadi nantinya. Hidup ini tak akan mampu diubah jika
pemiliknya tak mau bergerak. Hidup ini bagaikan permainan monopoli semakin
dituruti semakin tak dimengerti. Nadiva tengah terpaku pada laptop pinkynya
dikamar. Dengan diselimuti aroma petrichor – bau tanah basah setelah hujan –
yang khas ditambah gemercik air hujan yang masih tersisa dan dinginnya malam.
Ya, sebagai seorang pecinta novel Nadiva selalu menghabiskan hari harinya di depan
laptop. Bukan karena dia terobsesi menjadi seorang novelis tapi ini dia lakukan
semata mata untuk melepaskan penatnya. Bayangkan saja dia tak boleh keluar rumah
kecuali hanya sekolah bahkan jika ia berani melanggar peraturan orang tuanya
tak segan ia akan menjalani home schooling. Sebagai anak tunggal yang baru saja
duduk dibangku kelas 2 SMA, Nadiva mungkin sudah mengerti mana yang harus ia
lakukan dan mana yang tidak.
“Kamu itu harusnya ngerti apa yang dilakukan Istri saat Suami
pulang kerja” kata ini selalu terdengar ditelinga Nadiva setiap kali Papa dan
Mamanya telah tiba di rumah. Saat rumah hanya ada dirinya seorang diri, rumah
begitu. Walaupun hidup di tengah kota Bandung tapi rasanya begitu damai ketika
tak ada orang tuanya di rumah. “Kamu yang harusnya nyadar diri, Aku baru nyampe
rumah. Kamu nggak liat aku masih pakai baju kantor kaya gini”
“Ma, Pa udah lah aku ingin ada ketenangan dirumah ini. Setiap kali
Papa dan Mama ada dirumah pasti hal ini terulang. Aku benci susana kaya gini” adu
mulut antar kedua orang tuanya berhenti ketika Nadiva memberanikan diri keluar
dari kamar. “Kalian tahu hari ini tanggal berapa ?” tak sadar Nadiva sedikit
membentak kedua orang tuanya. “Tanggal 1 November, memang ada yang salah dengan
hari ini ?” papanya angkat bicara setelah melihat kearah kalender disudut
ruangan.
Tanpa banyak bicara Iva, begitu ia dipanggil, masuk ke kamar tanpa
sepatah katapun ia ucapkan. Orang tuanya benar-benar sudah tak ingat jika hari
ini tanggal ulang tahun anak semata wayangnya. “Papa, Mama itu emang egois gak
pernah mikirin kebahagaan anaknya. Yang mereka pikir cuma harta dan karir.
Sedangkan aku apa ?” Iva sudah tak kuat lagi untuk tinggal dirumah ini tak ada
teman, tak ada keluarga yang bisa mengerti keadaan dirinya.
ϓ ϓ ϓ
Hari ini Iva sengaja pulang agak sore. Menginggat Mamanya akan
meeting dengan client di kantor. Papanya menangani operasi besar kali ini jadi
dia beruntung punya waktu banyak untuk berada di sekolah.
“Nay___” Iva yang tengah berjalan beberapa meter di belakang Nay
berusaha menjajari langkah sahabatnya itu. “Apaan sih, lari lari segala. Kamu
tuh kenapa cerita dong ? Ada berita apa hari ini ?”
“Em... kamu tahu kan Nay kemarin kan Ulang tahunku. Orang tuaku ya
kaya biasa lah Nay pulang pulang berantem mereka sama sekali gak inget kalo
kemarin tanggal ulang tahunku. Dan hari ini aku bakal pulang sore”
“Iva ntar kalo orang tuamu marah gimana ? aku sendiri yang bakal
repot”
“Tenang aja hari ini papa dan mamaku pulang agak malem. Nanti
temenin aku urus surat kepindahan sekolah ke Surakarta” mendengar pernyataan
Iva, Nay kaget dan langsung mengerutkan keningnya. “Nay, aku serius. Aku udah
izin sama orang tua, nih aku bawa surat keterangan dan persetujuan dari orang
tuaku” Iva megacungkan amplop yang berisi surat keterangan dan persetujuan
orang tuanya.
“Nggak mungkin ini pasti kerjaan kamu iya kan nggaku deh. lagian
mana mungkin orang tua mu setuju. Aku denger sendiri kok waktu aku kerumahmu
akhir semester kemarin kalo kamu mau nekat kamu akan home schooling. Kamu gak
inget apa Iva ? lagian Surakarta itu kan jauh dari Bandung”
“Aku inget Nay dan aku tahu, tapi kalo aku terus terusan tinggal
disini lama-lama aku bisa gila. Jujur selama 16 tahun disini aku tertekan Nay.
Coba kamu rasaiin hidupku. Please Nay bantu aku” Iva behasil meluluhkan hati
Nay untuk menemaninya sepulang sekolah mengurus surat kepindahan.
Sang waktu begitu cepat mengatur hari ini. Bel pulang sekolah
terdengar oleh seluruh sudut sekolah tak terkecuali Iva. Mungkin saking
semangat dan bahagianya dia akan pindah, oh ini bukan pindah tapi ini kebih
cocok di sebut kabur. Secepat kilat sebelum Ibu Alice pergi dari ruangnnya
langkahnya sangat cepat untuk menemui wali kelasnya ini. Namun, Guru Killer ini lagi-lagi tidak
percaya dengan apa yang akan dilakukan oleh salah satu anak berprestasi di
sekolahnya ini.
“Briliana Nadiva Yana Wibowo. Apakah kamu yakin jika kamu akan
pindah ke Surakarta ?” Ibu Alice menatap mata Iva dalam dalam sedangkan Nay
hanya berani tertunduk. “Saya yakin bu dengan keputusan saya. Kedua orang tua
saya juga setuju dengan kepindahan saya, hari ini kedua orang tua saya tidak
bisa menemani saya untuk datang kesekolah dan ini surat keterangannya” Iva
menyodorkan surat itu diatas meja Ibu Alice. Dan anehnya setelah Ibu Alice
membaca surat itu. Secepatnya dia mengurus surat kepindahan Iva ke bagian TU.
Huuuh, Nadiva bernapas lega akhirnya dia sudah bukan lagi siswi di
SMA terkenal di Bandung ini. Dan hari ini, sore ini, detik ini pertemuan
terakhirnya dengan Nay sahabat sepermainanya. Di rumah Iva sudah menyiapkan dua
buah surat untuk Papa dan Mamanya, kemarin malam ia sudah packing segala
keperluan yang harus dibawa dan sekarang tinggal menunggu taksi yang akan
membawanya ke Stasiun Bandung.
Di dalam Kereta Api Lodaya yang membawanya ke kota impiannya itu,
Iva diam seribu bahasa tanpa satu kata pun ia ucapkan dari mulutnya. Uang yang
ia bawapun hanya pas-pasan tapi ia membawa buku tabungan, kartu ATM, kartu
debit dan segala macam kartu tak lupa member card yang banyak karena dia hobi
baget shopping terutama toko buku. Iva memilih tidur sembari menunggu kereta
apinya tiba di Stasiun Balapan Surakarta.
Sementara di Rumah Nadiva...
Kedua
orang tuanya bertengkar hebat setelah membaca surat darinya. Mereka saling
menyalahkan satu sama lain. Semua teman Nadiva mereka hubungi, Naylah yang
pertama mereka hubungi tapi Nay sudah diguna guna oleh Iva untuk tidak mengadu
dengan kedua orang tuanya. Ibu Alice pun kena semprot dengan kejadian ini. Dari
sang guru kiler ini lah orang tuanya tahu jika Iva pindah ke Surakarta. Namun
tak secepatnya orang tuanya mengambil tindakan, maklumlah Surakarta itu kota
yang luas. Anehnya lagi setelah tahu jika Iva berada di Surakarta Mama dan
Papanya tak ambil pusing. Mereka segera memberitahu kerabatnya di Surakarta
untuk mencari Iva.
ϓ ϓ ϓ
Hawa sejuk masih menyelimuti kota budaya ini. Masih subuh, Nadiva
keluar dari gerbong kereta yang ditumpanginya tapi dia mau kemana ? Setahu Iva
dia tak punya saudara di sini. Iva mencoba bertanya kepada sekelilingnya tapi
apa yang mau ia tanyakan ia benar-benar takut. Nadiva kembali menguap, mengucek
matanya untuk kembali memaksa membuka kedua matanya. Mungkin mengambil air
wudhu dan Sholat Subuh bisa membantunya mencari jalan keluar. Hal ini ia lakoni
rupanya, di masjid stasiun.
“Mas, saya titip tas ini sebentarnya saya mau sholat dulu” tanpa
banyak tunggu jawaban Iva langsung menuju tempat wudhu setelah memberikan koper
pinky dan tas sempang yang pinky juga pada anak muda yang seumuran dengan dia
di serambi masjid.
“Makasih ya mas maaf merepotkan” ucapan terima kasih pun terucap
dari mulut Iva ketika selesai sholat dan duduk di samping lelaki yang telah ia
titipi tas tadi.
“Sama sama mbak” Iva mengambil tas slempang dari tangan anak muda
yang belum ia kenal itu dan mengambil uang lima puluh ribuan satu lembar,
memberikannya pada pemuda itu. “Ndak usah mbak terima kasih. Mbak bukan orang
Solo ya ? ”
“Oh iya kita belum kenalan. Aku Nadiva panggil aja Iva aku dari
Bandung dan aku nggak tahu daerah sini” secepantnya Iva memasukkan uangnya ke
tas dan mengulurkan tangan kanannya. “Saya Bryian biasa dipanggil Ian. Saya
asli Solo saya sekolah di SMA Paradisea Jalan Slamet Riyadi No 19” cowok ini
juga mengulurkan tangannya pada Nadiva. “Mas boleh antar aku dong ke sekolah
mas ?”
“Hari ini Minggu mbak. Mbak gak ingat apa ?” muka Iva pun memerah,
perbincanganpun semakin lama semakin ngelantur. Hingga sang mentari memunculkan
sinar paginya dari arah Timur. Iva pun menuruti langkah Ian yang bersedia
mengantarkannya mencari kost dekat sekolahnya nanti apalagi kalo bukan SMA
Paradisea. Ya menurut penjelasan Ian waktu di Serambi Masjid Stasiun Balapan,
SMA Paradisea memang sekolah elite di Surakarta peserta didiknya sudah banyak
mengukir prestasi baik ditingkat nasional maupun ditingkat internasional. Siapa
tahu Iva bakal mengukir prestasi dan megharumkan nama sekolahnya, upps calon
sekolahnya.
Setelah beberapa menit membonceng motor Ian, mata Iva tertuju pada
sebuah kost yang cukup baguslah bagi kalangan pelajar baginya. Harganyapun pas
dikantong. Suasanyanya pas dihati banyak pepohonan ada taman yang asri,
gemercik suara airpun terdengar di kompleks kost putri ini. Lagi lagi hal yang
telah Iva lakukan di serambi masjid tadi terulang kembali di sini. Iva kembali
mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dan memberikannya pada Ian. Lagi
lagi Ian menolaknya dengan kalimat yang sama. Bodohnya Iva ? Iva berkata dalam
hati, mukanya memerah seketika.
“Oh iya Ian, kopernya ?” Iva memandangi koper yang masih berada di
motor Ian. Melihatkan senyum tipisnya dan menyipitkan mata ke arah koper yang
dihimpit di depan jok motor. “Oh iya, ini. Kamu udah tahu kan sekolahnya ? tapi
besok aku jemput deh. Aku anterin urus administrasi” tawaran Ian semakin
membuat muka Iva semakin memerah.
“Okey lahh. Jam 7 kan ?”
“Gerbang sekolah ditutup jam 7. Jadi aku tunggu kamu jam setengah 7
di sini” sebelum muka Iva tambah memerah. Iva memeiih menyudahi obrolan dengan
Ian dan masuk ke kamar kostnya.
ϓ ϓ ϓ
Jam weker pinky Iva terus menerus berdering. Namun, Iva memaksa kan
tubuhnya untuk terus tetap terlelap tidur. Semua barang Iva emang Pink tak
heran jika temannya main ke rumah di Bandung kamarnya serba Pink. Bener-bener
nih Ratu Pinky. Iva terbangun setelah ada orang yang mengetuk pintu kostnya.
Dengan muka yang masih berantakan, rambut yang belum disisir dan mengenakan
baju tidur ia membuka pintu. Tanpa sadar yang ada diambang pintu ternyata Ian.
Ya ampun, bagaimana lucunya reaksi dua sejoli ini ketika melihat wajah satu
sama lain.
“Aduh Ian maaf, sebentar Ian aku beres beres dulu. Tunggu sebentar
ya” Ian hanya tersenyum tipis. Dan menahan agar tawanya tidah pecah di depan
Iva. Utung aja Ian datang lebih pagi dari yang mereka janjikan kemarin. Kalau
tidak jangan harap Pak Satpam mau membukakan gerbang sekolah sebelum jam 9. “Berkas-berkas
udah dibawa ?” Ian yang sedang duduk di luar, tiba tiba berdiri menatap Iva
yang kini telah berada di depannya. Inilah salah satu kebiasaan Iva PELUPA.
Coba saja jika Ian tidak membangunkannya tadi. Coba saja jika Ian tidak
menginggatkan berkas berkas yang harus dibawanya.
Pertama kali masuk gerbang SMA Paradisea semua orang mentertawai
Iva ketika dia sedang bonceng Ian. Apa ada yang salah dengan gaya Iva pagi itu
? Tapi Iva baik baik saja, tak ada yang aneh dari dirinya. Hingga akhirnya
setelah turun dari sepeda motor Ian, Iva menanyakan apakah ada sesuatu yang
aneh dengan dirinya. Hah, hanya gara gara rok pendek di atas lulut ? Ini hal
biasa di sekolah Iva yang dulu. Surakarta begitu Iva menyebutnya, Iva memang
suka menyebut Surakarta ketimbang Solo. Entah kenapa, menurutnya Surakarta
lebih indah dan menarik daripada Solo. Padahal ini satu tempat yang sama. Ketika
sampai di bagian TU sekolahpun Iva tetap menjadi sorotan dewan guru. Tradasi
dan budaya memang sangat dijaga di sini. Yah, walaupun ini sekolah elite.
“Iva, silahkan perkenalkan dirimu” Pak Pramudya, guru ganteng dan
guru pertama yang Iva jumpai di SMA Paradisea. “Selamat Pagi. Perkenalkan
namaku Briliana Nadiva Yana Wibowo. Biasa dipanggil Iva, aku dari Bandung.
Terima Kasih” saat Iva akan duduk para lelaki yang ada di kelasnya melihat Iva
sampai tak berkedip sekalipun.
“Iva, mulai besok kamu ganti rok seperti teman kamu yang lain.
Mengerti” Iva kira Pak Pram guru yang ramah ternyata oh ternyata, Pak Pram
membentak Iva. “Mengerti Pak” sontak seisi kelas hanya terdiam kaku, tak ada
suara.
Iva tak sekelas dengan Ian ternyata Ian satu tahun lebih tua
darinya Ian saat ini kelas 3 SMA. Itu berarti Iva harus memanggil Ian dengan
sebutan Kakak. Dan letak kelas Ian dengan kelas Iva super duper jauh. Yah
untunglah walaupun berangkat dari seorang yang bisa dibilang tak mampu
beradaptasi karena tak punya teman. Di sini justu keadaan berbanding terbalik
dengan Bandung, baru sehari berada di Surakarta tapi teman Iva sudah banyak.
Tak hanya kaum wanita, kaum lelaki juga dekat dengannya. Mungkin postur tubuh
Iva yang tinggi semampai dan wajahnya yang baby face ditambah gigi putih yang
tersusun rapi serta rambut pirang sebahunya.
ϓ ϓ ϓ
“Hey, gimana senang dengan kelas barunya ?” Ian menjajari langkah
Iva yang tengah menunju kantin saat istirahat sekolah. “Senang lah kak. Di sini
banyak temen ? nggak kaya di Bandung sepi, sempit. Mau ngapa ngapain gak bisa.
Di sini enak bebas. Eh iya kak kenalin ini Chacha teman sebangku sama aku di
kelas”
“Udah tau kali Iva. Chacha ini bendahara di komunitas kita”
“Komunitas apa ?”
“Kepo” Ian dan Chacha menyentak Iva bebarengan. Tanpa Iva sadari,
ia menuruti saja langkah Ian dan Chacha kemanapun mereka menyusuri lorong
sekolah. Akhirnya mereka sampai di markas komunitas pecinta traveling SMA
Paradisea.
“Dan inilah komunitas kita. KOMTRAPAR, kita bisa berbagi
pengalaman, perjalanan, persahabatan, dan percintaan. Dalam dunia traveling
tentunya. Setiap jam istirahat para member dan staf divisi berkumpul di markas
ini dan setiap tiga minggu sekali kita mengadakan traveling di wilayah
Indonesia” Ian menjelaskan pada Iva dengan ruangan yang lengkap dengan segala
peralatan traveling, MENAKJUBKAN. Ini tak ada dalam bayangan Iva sebelumnya,
luar biasa. DSLR, Camera Digital, Handycam, Kompas, Buku panduan traveling,
semua tersusun rapi dalam sebuah etalase kaca di sudut ruangan.
“Jika anda ingin menjelajah dengan dunia kami silahkan isi folmulir
ini. Perkenalkan saya Nada, divisi SDM KOMTRAPAR” ungkapnya sambil mengangkat
selembar formulir dan bolpoint ke atas muka Iva.
“Ini benar benar keren. Kak sumpah ini keren baget, cha kenapa kamu
gak cerita tentang ini ?” Iva masih melongo longo tak karuan, sambil mengambil
secarik formulir yang disodorkan Nada. Dan mulai mengisi tanpa pikir panjang.
“KOMTRAPAR...Komunitas Traveling Paradisea dengan president Bryian
Nugie Dewanta” Chacha menambahkan dengan gaya bicaranya yang khas anak
traveling. “Okey, jadi kapan kita traveling ?” Iva mulai tak sabar, namun
sesuai Undang Undang yang berlaku di KOMTRAPAR, member baru harus bisa
menggunakan DSLR, Camera Digital, Handycam, Kompas, nggak buta arah dan bisa
diajak gila-gilaan. Dan Iva bisa semua itu.
KOMTRAPAR minggu lalu baru aja traveling ke Kediri, Jawa Timur dan
2 bulan lagi adalah Tahun Baru 2014 jadi untuk Undang Undang KOMTRAPAR yang
berbunyi dalam pasal 1 ayat 1 tiga minggu sekali wajib mengadakan traveling
dan ayat 2 berbunyi kecuali ada hal tertentu yang lebih penting daripada
ayat 1. Dan Undang Undang ini berlaku saat Iva menjadi member baru
KOMTRAPAR, sabar Iva ini hanya permulaan. “Nanti sepulang sekolah kita
agendakan rencana baru kita di Malam Tahun Baru 2014” Ian sedikit menegaskan
pada kalimat terakhir saat masih berada di markas KOMTRAPAR yang terletak di
sudut sekolah, sehingga banyak orang tak tahu tentang tempat rahasia ini.
Jam 4 sore sudah berlalu ketika lonceng jam besar sekolah berbunyi.
Walaupun pulang sore tapi Iva bahagia hari ini. Bagaimana tidak setelah anak-anak
pulang, Iva dan member KOMTRAPAR
mengadakan perkumpulan yang membicarakan masalah hebat apalagi kalau bukan
menyambut pergantian tahun padahal masih 2 bulan lagi. Iva pikir ini bakal
membosankan tapi ini lebih dari bayangannya.
“Eh Iva... abis ini mau kemana ? tahu jalan pulang kan ?” Ian
tengah berjalan di sampingnya setelah keluar dadi markas KOMTRAPAR. “Tahu lah
kak ngejek ceritanaya ?” Iva mulai manyun.
“Lho bener kan, aku kan gak salah omong emang gini kok kenyataanya”
Ian tak bisa menahan tawanya lagi. Seketika tawanya mulai pecah dan tertahan ketika
Iva mencubit lengannya. “Ian___” langkah mereka terhenti ketika ada sosok cewek
yang kelihatannya kakak kelas Iva, temennya Ian memanggilnya dari arah
belakang. “Ini siapa Ian, anak baru ya ? Nggak sopan” Wilda, cewek sok cantik,
sok feminin tapi gak perfect sama sekali. Begitulah mata Iva melihat cewek
angkatan 1 tahun lebih tua darinya.
“Ini Iva anak kelas 2 IPA 2 dia dari Bandung. Emang kamu ada perlu
apa ?” Ian memnjelaskan dengan sopan sedangkan Iva melipat kedua tangannya di
dada, menatap wajahnya tanpa ragu sedikitpun. “Tadi Pak Rudy bilang ke aku kalo
kamu mau gak jadi anggota basket sekolah kita ? Tapi sekarang Pak Rudy udah
pulang, abisnya kamu sih aku cariin gak ada” sumpah sok kecakepan banget nih cewek,
Iva ngedumel tak karuan. “Iya deh besok aku bilang sama Pak Rudy”
“Ciyeilleh yang mau jadi anak basket” Iva mulai angkat bicara
ketika Wilda sudah enyah dari pandangannya. “Enggak lah aku kan udah kelas 3,
mau fokus aja sama UN dan SNMPTN. Mulai besok kamu ganti rok panjang kaya anak
anak lain”
“PEMILU juga ya ? Hahaha. Iya iya deh aku ganti anterin kek, aku
kan gak tahu yang jual dimana” Iva dan Ian sama-sama melangkah menuju tempat
parkir motor Ian. “Pasar Loak banyak. Ya udah buruan naik, aku anter” tanpa
banyak bicara Iva langsung naik jok motor Ian setelah tiba di parkiran sekolah.
ϓ ϓ ϓ
Satu bulan berlalu di Surakarta. Namun, hingga saat ini Papa dan
Mama Nadiva belum juga mencari anak semata wayangnya itu. Ini keterlaluan,
boro-boro mau nyari nelfon aja gak pernah. Mereka malah mementingkan karir
daripada anak. Ini gila gak bisa dibiarin, sampai akhirnya Ian penasaran dengan
apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh bocah ini. Usahanya tak berhasil untuk
membongkar rahasia Iva. Hingga akhirnya Ian pesimis dengan usahanya itu.
Sementara Iva berfikir memutar otak, ternyata Ian itu orangnya
lumayan, ganteng udah pasti, tinggi apalagi, pinter gak diiragukan lagi. Ian
bener-bener perfect. Diam-diam sudah satu bulan ini Iva memperhatikan Ian. Ian
selalu datang kapan saja dimana saja ketika Iva butuh bantuannya. Satu minggu
yang lalu saat Iva iseng jalan-jalan ke Pasar Klewer ia gak tahu jalan pulang
tapi apa gerangan yang terjadi ? Ian muncul di belakangnya dan mengantarnya
pulang ke kost.
“Iva aku penasaran lho sama kamu” Ian sedikit gugup saat berada di
samping Iva ketika mereka sedang jalan-jalan di Car Free Day Slamet Riyadi.
“Penasaran ?” Kening Iva mengkerut seketika dan menatap wajah Ian dari samping.
“ ya kamu tuh sebenarnya ke Solo sama siapa ? Bandung itu jauh lho dari sini.
Kata kamu keluargamu juga gak ada di Solo. Kamu sebenarnya ke Solo itu udah
izin belum sama orang tua ?” Ian tambah gugup. Kamu beneran penasaran. Tapi ada syaratnya.
Jumlah nilai kamu harus lebih tinggi dari aku saat ulangan akhir semester
besok. Setuju ?” tanpa pandang bulu Ian menerima tawaran dari Iva.
Setiap hari setelah Ian pulang dari sekolah ia langsung belajar,
ditemani dengan tentor-tentor handal les privatnya. Iva tak tahu menau tentang
hal ini. Iva terus belajar dan terus belajar agar bisa menggembleng nilai Ian
nantinya. Toh jika Iva tak belajar sekalipun ia bisa menjadi juara kelas ini
terbukti saat di sekolahnya yang lama. Lima belas hari sudah ulangan akhir
semester SMA Paradisea selesai, kini saatnya pembagian rapor semester. Inilah
bagian yang ditunggu-tunggu oleh dua anak manusia yang mungkin saling ada
ikatan batin.
“ Kak nih nilaiku 1304 ” Iva dengan
bangga menunjukkan pada Ian letak dimana angka itu ditulis di rapornya. Ian
diam sejenak melihat nilai Iva dengan memasang muka memelas “Aku....1324. ini
berarti aku yang menang dan kamu yang harus bongkar semua rahasia kamu” sial
beda tipis 20 angka. Iva harus menyiapkan argumen yang pas untuk Ian dengarkan.
“Okey aku ngaku aku kalah, tapi ngomongya gak di sini lah, masih banyak
temen-temen tuh” muka Iva memerah dan tak tertahankan lagi.
“Enggak lah, mulai besok kita liburkan. Oh iya kemarin waktu kamu
gak berangkat banyak anak-anak yang gak setuju kalo malam tahun baru kita
traveling. Mereka pengen ngerayain bareng keluarga mereka. Yah mau gimana lagi
November-Desember kita gak ada agenda. Ayah, Ibu dan adikku juga mau keluar
kota” ocehan Ian membuat Iva manyun. “Dan itu berarti kamu juga gak bisa ?” “Aku
tetap di Solo, rumah gak ada yang jaga, ntar kalo kemalingan kan repot ? Hahaha”
tawa mereka berdua pecah seketika.
ϓ ϓ ϓ
Iva kesepian di kost banyak anak kost yang pulang dijemput orang
tuanya. Sedangkan Iva ? hanya diam di teras kost menikmati wifi gratis dan
mulai memainkan jemarinya di atas keyboard laptop pinky. Ketika sedang mencari
inspirasi untuk diangkat ke novelnya, lamunan Iva buyar saat tiba-tiba Ian
datang mengagetkannya.
“Apa sih kak Ian. Ah ngagetin ” Iva gusar dengan tingkah Ian dan
langsung pindah ke gazebo kompleks kostnya. “Eh... ngambek ceritanya. Atau
jangan-jangan kamu menghindar ya dari aku untuk bongkar semua rahasia kamu. Nih
ada minuman gratis” Ian memperhatikannya sambil membawa dua buah minuman botol
yang diambil dari kulkas dekat gazebo. “Siapa bilang ini gratis. Ini tuh
termasuk salah satu fasilitas yang udah aku bayar selama di kost ini” Iva
perlahan mengambil minuman botol itu dari genggaman Ian.
“Okey, jadi aku siap dengerin cerita kamu” mulut Iva mulai komat
kamit tak karuan saat bercerita panjang lebar tentang kehidupannya mulai di
Bandung hingga sampai ke Surakarta. Ian hanya mengangguk paham dan berkali-kali
hanya mengatakan iya, oh, em, okey, terus, ngerti “ ... Ya jadi gini lah aku
sampai di kota yang penuh dengan ketentraman. Tapi aku juga gak lupa terima
kasih lho sama kakak yang udah nolongin aku. Waku itu aku bener-bener panik di
Stasiun Balapan coba aja kalo gak ada kamu aku bisa jadi gelandangan di sini ”
Iva menepuk nepuk bahu Ian yang duduk di sampingnya. Muka Ian memerah seketika,
tapi Ian gak habis pikir bisa-bisanya cewek kaya Iva kabur dari Bandung dan
sampai saat ini orang tuanya gak mencarinya.
“Kamu udah coba hubungi orang tua mu ?” Ian bertanya begitu serius.
“Hello.. kak Ian aku ini kabur. Ngapain juga aku telfon orang tuaku, bisa-bisa
aku diseret pulang dan dimakan sama guru home schooling” Iva mengucapkan dengan
penuh ekspresi dan masih terus memainkan jemarinya di atas keyboard laptop
pinky. “Oh iya sekarang kan udah tanggal
31 Desember, mending kamu siap-siap gih udah sore lho. Nanti kan ada Car Free
Night di Jalan Slamet Riyadi” Ian menyuruh Iva untuk besiap-siap merayakan
Malam Pergantian Tahun.
ϓ ϓ ϓ
Car Free Night tahun ini benar-benar menakjubkan banyak
panggung-panggung disediakan oleh Pemerintah Kota Surakarta untuk merayakan
malam pergantian tahun kali ini. Dan mata Ian dan Iva tertuju pada sebuah
panggung keroncong, musisi jalanan menyanyikan satu buah lagu yang membuat hati
Iva mengalun perlahan.
Ning stasiun
balapan
Kutha solo sing
dadi kenangan
Kowe karo aku
Naliko ngeterke
lungamu
Di tengah ribuan pejalan kali yang memadati Jalan Slamet Riyadi,
Ian mencoba menjelaskan arti lirik yang pernah dibawakan oleh maestro keroncong
Didi Kempot itu. “Itu artinya di statsiun balapan, Kota Solo yang jadi
kenangan, kamu dan aku, ketika mengantar pergimu. Aku jadi inget Iva, waktu
pertama kali kita ketemu setelah subuh di serambi masjid stasiun balapan kamu
kaya orang dikejar maling. Hahaha” Ian menjelaskan dengan penuh arti, tapi Iva
masih diam bersikukuh dengan apa yang ada dihadapannya.
Ning stasiun balapan
Rasane koyo wong kelangan
Kowe ninggal aku
Ra kroso netes eluh ning pipiku
Beberapa panggung dengan tatanan lighting yang apik dan memukau ada
di sini. Hingga akhirnya pukul 23.55 WIB mereka sampai di panggung utama depan
Balai Kota Surakarta. Tepat pukul 00.00 WIB bunyi sirine dan tiupan terompet
oleh Pak Wali Kota dan diikuti oleh seluruh pengunjung akhirnya terdengar oleh
telinga Ian dan Iva. Disusul dengan ribuah kembang api yang menyala-nyala di
atas langit Kota Surakarta.
“Briliana Nadiva Yana Wibowo, maukah kamu menjadi orang yang ada di
hatiku ? menjadi wanita yang lebih dari seorang teman ? menjadi pacarku
tepatnya ? ” Ian mengenggam tangan Iva dan menatap matanya penuh arti dan tanda
tanya setelah lewat pukul 00.00 WIB.
“Bryian Nugie Dewanta aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku di
Surakarta, Kota yang penuh budaya, penuh makna, penuh segala-galanya. Di sudut
Kota Surakartalah kita bertemu menjalin persahabatan dan akhirnya menjalin
cinta menjadi sepasang kekasih” Iva kembali menatap Ian penuh arti.
“Surakarta aku cinta padamu....” dua anak manusia ini mengeluarkan
ekspresinya bebarengan dengan tangan bergandengan. “Selamat Tahun Baru 2014
Nadiva” Ian membisikan kalimat ini di telinga Iva “Happy New Year 2014 kak
Bryian” Iva menirukan gaya Ian. “Mama dan Papa juga setuju kalau kalian pacaran”
Perkataan Mama Iva sedikit mengaggetkan mereka berdua, ternyata dalang dibalik
semua cerita ini adalah Ian. Ian lah yang mempertemukan Nadiva dengan kedua
orang tuanya.

Komentar
Posting Komentar